dalam teriakkan malam
yang memekak telinga
apakah itu rangkaian nasib?
membawaku hanyut dalam kubangan lumpur yang mengering
berbasuh erangan , pada sayup lafadz saat fajar
berlari kesana ke mari, tanpa arah
atau terbutakan arah?
termenung akan sebuah akhir
dan berparkir dibalik papan
merapat pada pelukan bumi
saat itu,
tak bisa ku angkat wajahku
karna rasa malu yang mengoyak sisa imanku
di satu kelam yang berganti,
ku memohon dalam untaian pesan dari hati
jangan paksa aku lagi
jangan!!!
biarkan ku sendiri
biarkan kelak ku menyatu pada pendaran mentari





